
Hari menjelang pagi, tubuhku bergerak spontan berdiri tertatih menuju kamar kecil, kedua mata ini masih setengah terpejam menahan kantuk yang tak kunjung selesai, rasa malas hinggap dalam jiwaku ketika kulihat air dalam bak mandi itu, uh… terpaksa aku harus menyentuhnya! Dingin, sangat dingin … udara terasa dingin menyentuh tubuh ini, tempat yang kupijak ini berada tepat dikelilingi oleh gunung-gunung yang berdiri kokoh menampakkan keagungannya, udaranya tidak akan terasa panas walaupun sebenarnya panas dan akan terasa sejuk karena itulah keasliannya.
Pagi menjelang siang, matahari menampakkan sinarnya dibawah langit biru yang terhampar luas di atas bumi nan luas, sekelompok burung terbang di atas pepohonan yang masih tersisa diantara bangunan-bangunan beton yang berdiri kuat disekelilingnya, semakin hari pepohonan itu semakin tua kemudian mati tidak berdaun dan juga berbuah kemudian manusiapun menumbangkannya, “untuk apa menghiasi tempat dengan pohon-pohon tua yang tidak enak dipandang mata!”, begitulah nasib yang tua selalu tersingkir dan tidak berguna. Baca Lanjutannya…


Tidak terasa sudah 12 tahun kita berada di jaman reformasi, ingatanku kembali menyeruak di masa dimana aku pernah mendengar seorang pakar ekonomi mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan waktu 20 tahun untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi, waktu itu aku tidak percaya! Tetapi sekarang sudah 12 tahun Indonesia berada dalam keterpurukan itu, jangan-jangan pakar itu benar! atau mungkin akan lebih dari 20 tahun? Bisa saja… 
Hampir setiap hari kulihat kemiskinan didepan mataku, hampir setiap hari pula aku melihat orang lalu lalang dimana-mana tanpa kerjaan yang jelas, sering aku mendengar orang mengatakan hidup di jaman sekarang semakin sulit saja, mana peran penguasa yang selama ini selalu menjadikan kemiskinan sebagai komoditas penting dalam kampanyenya? Masih banyak contoh-contoh kecil yang kalau disimpulkan masih jauh untuk menggapai kesejahteraan.
segar untuk sebuah perubahan, tetapi ketika kemenangan itu dipublikasikan di media, alangkah kecewanya hati ini kenapa yang ada malah konplik antar partai serta perpecahan untuk memperebutkan kekuasaan, mungkin dalam budaya politik itu hal biasa yang mereka sebut proses demokrasi, tapi kenapa ya’ aku enek’ ngeliatnya…
Demi kemiskinan, demi pengangguran, demi kesehatan, demi ketidakadilan, demi kebodohan, demi harga diri dan moral, demi ketidakjujuran, demi kekuasaan, demi sebuah pengingkaran, demi sebuah janji yang pernah terlontar, aku nyatakan untuk GOLPUT saja!.


